cerpen dilema diri





Huh akhirnya tercapai juga" gumanku dalam hati. Sengaja hari ini aku bangun pagi sekali. Ada hajat yang hendak ku tunaikan. Setelah sekian Minggu memendam keinginan yang membuat ku menahan urusun leher kebawah karena aku ingin memberi gizi bagi leher keatasku. Akhirnya urusan leher ke atas harus ku tuntaskan Hari ini juga tidak boleh besok. Tak tahan rasanya jika saat presentasi dan diskusi aku hanya jadi pendengar setia. Masak dari satu diskusi ke diskusi berikutnya gak ada kemajuan. Ejekku sendiri guna memompa semangatku.
Sebagai mahasiswa rantau tentu harus pandai menghemat kiriman, bukankah orang tua rela kerja keras nahan lapar demi beberapa lembar rupiah untuk dikirim ke anaknya. Durhaka rasanya jika hasila keringat mereka ku gunakan untuk hal yang tak semestinya. Jadi setelah aku berhasil memberi makan perutnku. Tugas selanjutnya adalah memberikan makan untuk otakku. Meski ku tahu makanan otak tak semurah makanan perut tapi aku harus bersikap adil mereka punya hak yang sama terhadapku.
Berbekal lembaran uang yang telah ku sisihkan dari berhemat makan, kulangkahkan kaki menuju halte bus. Tujuanku hari ini satu aku harus ke toko buku. Aku akan menuntaskan dendam terpedamku. Dendam karena ketidak berdayakanku dalam adu argumen dalam berdiskusi. hari ini tidak seperti biasanya, bus yang biasa lewat setiap 30 menit hingga hampir 2 Jam menunggu tak jua datang
Aku pun mulai jenuh, untuk menghilangkan kejenuhan ku coba mengobrol dengan seorang anak yang menjadi pedagang asonganl yang duduk disampingku. "Dik masih sekolah?" Tanyaku membuka percakapan. "Masih" jawabnya. Masih sekolah kok jualan apa tidak terganggu sekolahnya tanyaku penuh selidik. Jualannya pulang sekolah kak. Oh pantesan celana kamu kayak seragam SMP. Iya tersenyum dan menjawab saya kelas 3 sMp . Trus kamu jualan untuk apa?untuk beli buku kak biar nanti saya bisa masuk SMA yang bagus. Bagi saya pendidikan itu penting kak. Susah gak papa yang penting bisa sekolah" gak nyangka ada anak yang mikir kayak gini rela Jadi pedagang asongan demi membeli buku gumanku.
Entah kenapa setelah ngobrol dengan anak tadi aku mengalami perang batin. Hati bergolak antara mengutuk dan bersyukur dengan percakapan tadi. Percakapan tadi telah merubah gerak langkahku. Tujuan membelikan makanan otakku haruskah terhenti sampai halte bus ini. Aku pun mulai berdiskusi dengan diriku sediri, berusaha menekan ego dan emosi dan berupaya mengembangkan naluri empatiku.
"Ini dik semoga bermanfaat". Ku keluarkan Uang 200.000 ribu . Setelah ku berikan uang tersebut. Aku pun berlalu entahlah apa ekspresi anak tadi kaget atau senangkah? aku tak peduli. Yang ku pedulikan saat ini adalah berusaha menasehati hati bahwa tindakanku benar. "Kau memang butuh buku untuk otakmu tapi ada yang jauh lebih membutuhkan makanan otak dari pada kamu, seorang anak yang memiliki mimpi untuk memperbaiki masa depan keluarganya". Nasehatku pada diri sendiri guna membungkus kecewa yang mulai bergelayut.
#latihan nulis

Comments