Stop Buku Bajakan Dengan Cara Berhenti Membelinya


          
          Sumber gambar :  Pixabay. com
Salah satu sebab tidak berkembangnya dunia penerbitan di Indonesia adalah maraknya pembajakan buku.  Memang pembajakan buku sangat menguntungkan pembeli karena harga buku menjadi lebih murah dari buku aslinya.  Namun sayangnya pembajakan buku sangat merugikan dunia penerbitan.  Ada banyak hak-hak orang yang dikebiri dengan adanya pembajakan buku.  Mulai dari penulis yang kehilangan royalti,  para layouter, editor dan juga karyawan di penerbitan buku resmi sama sekali tidak mendapatkan hasil dari penjualan buku bajakan.

Untuk saat ini dengan adanya pembajakan buku pembaca seolah-olah mendapatkan kebahagiaan yang tidak terkira.  Karena bisa mendapatkan buku impian dengan harga kaki lima.  Namun jika hal ini diteruskan maka pembaca sendirilah yang akan sangat dirugikan.  Mereka akan kehilangan buku bacaan yang berkualitas.  Karena buku yang berkualitas hanya diterbitkan oleh penerbit buku yang resmi.

Tetapi jika penerbit buku yang resmi ini dikebiri dengan maraknya pembajakan buku.  Maka penerbit buku resmi tidak akan mampu bertahan untuk membiayai ongkos produksi dan juga gaji karyawannya.  Keuntungan yang seharusnya bisa digunakan untuk mengembangkan usaha penerbitannya.  Malah masuk ke pihak pembajak sehingga kerugian yang berlimpat dialami penerbit buku resmi.

Berdasarkan data dari Political and Economic Risk Consultacy (PERC).  Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara paling buruk dalam perlindungan Hak Kekayaan  Intelektual ( HKI).  Oleh karenanya Indonesia masuk daftar negara prioritas yang diawasi oleh United States Trade Representative (USTR) sebagai negara yang banyak terjadi pelanggaran hak kekayaan intelektual. Data ini menunjukkan bahwa pembajakan buku di Indonesia sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

Maraknya aksi pembajakan buku salah satu sebabnya adalah karena kurangnya ketegasan hukum terkait dengan pembajakan buku.  Kita lihat saja buku-buku bajakan sangat mudah didapatkan.  Bahkan penjualannya pun terang-terangan.  Sehingga hal ini menimbulkan anggapan dimasyarakat bahwa pembajakan buku adalah hal yang biasa dan tidak dianggap sebagai sebuah tindak pidana. Kemudian masyarakat akhirnya membeli buku bajakan tersebut tanpa rasa bersalah.

Dalam hal ini sebagai pembaca seharusnya kita turut serta menghentikan peredaran buku bajakan.  Kita harus mulai menyadari bahwa tindakan membeli buku bajakan adalah perbuatan yang zalim. Kenapa?  Karena kita telah melakukan kejahatan terhadap para pelaku industri penerbit buku yang resmi.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghentikan peredaran buku bajakan adalah tidak membeli buku bajakan.  Mari kembangkan rasa empati kita.  Coba kita tempatkan diri kita pada posisi mereka dalam hal ini adalah penerbitan buku yang resmi.  Bagaimana sedihnya ketika mereka sudah bekerja keras dan juga mengantungkan kehidupan keluarga pada hasil penjualan buku.  Namun hasil penjualan buku yang sangat ditunggu untuk memenuhi biaya kehidupan tak kunjung datang karena adanya pembajakan.  Butiran keringat yang harusnya menjadi pundi-pundi rupiah ternyata dimiliki oleh pihak pembajak buku.  Apa yang mereka rasakan?  Sedih,  marah,  kecewa semua bercampur menjadi satu.

Maka dari itu sebagai pembaca mari berhenti membeli buku bajakan. Bagaimana para penulis bisa terus berkarya jika yang kita beli hanya buku bajakan. Penulis juga manusia biasa yang tidak lepas dari kebutuhan hidup.  Makanya mari kita dukung mereka supaya bisa tetap berkarya dengan membeli karya mereka melalui penerbit yang resmi,  misalnya melalui toko buku Mizan.

Harga mahal bukanlah soal,  bukankah para penulis juga menghabiskan seluruh waktu, tenaga dan pemikiran untuk menghasilkan karya tersebut. Makanya kerja keras mereka harus mendapatkan bayaran yang setimpal, begitu pula pelaku industri penerbit buku resmi. Mulai dari editor, layouter dan juga karyawan di penerbitan buku. Mereka telah memeras keringat demi hadirnya sebuah buku yang tampilannya bagus.   Dengan dukungan tersebut maka para penulis akan terus melahirkan karya yang berkualitas.  Sebuah karya yang sangat berguna bagi pencerdasan generasi bangsa.

Ada satu point lagi yang bisa kita lakukan untuk menghentikan peredaran buku bajakan yaitu dengan cara membuat petisi online. Harapannya dengan adanya petisi online ini pemerintah semakin peduli terhadap adanya pembajakan buku. Sehingga ketegasan hukum terhadap pembajakan buku bisa segera dilakukan. Dengan demikian pelaku pembajakan akan berfikir ulang untuk membajak buku dan penulis serta pelaku industri penerbit buku resmi bisa terus berkembang.

Pengalaman membeli buku bajakan
Tidak dipungkiri saya pun pernah membeli buku bajakan.  Saat itu saya membelinya melalui media online.  Jadi saya tidak bisa melihat langsung kualitas barangnya. Tentu saja alasan saya membeli buku bajakan karena tergiur dengan harga yang murah meriah. Memang harga menentukan kualitas. Terbukti kualitas buku bajakan tidak sebaik dan sebagus buku asli.  Saya pun mengalami kekecewaan terhadap buku bajakan yang saya beli:

Adapun kekecewaan yang saya alami
1. Kualitas kertasnya
Kertas dari buku bajakan tersebut warnanya buram dan tipis.  Karena warnanya buram maka ada sebagian tulisan yang tercetak tidak bisa terbaca dengan jelas.

2. Hasil cetakan miring
Karena cetakan buku ada yang miring maka  saat membaca saya harus memiring-miringkan buku tersebut supaya mudah dibaca. Tentu saja hal ini mengurangi kenyamanan saya saat membaca. Selain itu ada sebagian tulisan yang tidak bisa dibaca karena tulisan tersebut terkena lem perekat buku. Jika memaksa untuk dibaca berarti harus merusak buku,  karena itulah terpaksa saya merelakan untuk kehilangan informasi dari pada merusak buku.

3. Ada beberapa halaman yang hilang
Saat itu saya tengah asyik membaca namun setelah saya balik halaman berikutnya ternyata tidak ada sambungannya. Halaman tersebut loncat, jadi ada beberapa halaman yang hilang. Tentu saja saya sangat kecewa karena saya tidak bisa mengetahui kelanjutan tulisan yang saya baca.  Itu sama artinya saya kehilangan tulisan penting yang menghubungkan informasi satu ke informasi selanjutnya.

4. Hasil cetakan buram
Karena tulisannya buram, ketika membaca buku bajakan saya harus benar-benar berada di tempat terang dan harus dengan jarak yang dekat.  Bahkan saking buramnya ada beberapa kata yang tidak terbaca. Sehingga saya merangkai-rangkai sendiri kata-kata yang hilang tersebut supaya menjadi kalimat yang bisa dipahami. Selain itu tulisan buram menyebabkan mata mudah lelah saat membaca,  maka dari itu saya tidak bisa berlama-lama membaca buku bajakan.

5. Lem perekat buku mudah lepas
Sebenarnya saya sudah cukup hati-hati saat membalik lembaran demi lembaran bukunya.  Tetapi tetap saja ada lembaran yang terlepas.  Jadi jika buku tersebut dibaca berulang-ulang maka akan lebih banyak lagi lembaran yang terlepas.  Pastinya ini sangat merepotkan karena saya harus menyimpan lembaran-lembaran tersebut.

Mengingat kejadian tersebut saya tidak ingin mengulangi kekecewaan yang sama. Jadi harga murah tidak bisa kita jadikan jaminan untuk bisa menikmati buku dengan nyaman dan menyenangkan.  Harga mahal memang sebanding dengan kualitasnya.  Tidak hanya itu dengan cetakan buku yang berkualitas maka buku yang kita miliki akan awet dan bisa kita wariskan dari generasi ke generasi.

Yuk! Stop buku bajakan dengan cara tidak membelinya. Kesadaran diri untuk tidak membeli buku bajakan memiliki arti yang besar bagi berkembangnya buku-buku yang berkualitas.
Previous
Next Post »
0 Komentar